| Tunggu belas kasihan |
Kalau saya menulis berangkat dari uraian singkat ini, saya terus terang tidak bisa melanjutkan apa kira-kira tulisan selanjutnya. Saya cuma tahu, ngatur Negara itu tidak gampang. Mikir rakyat itu tidak mudah. Apalagi kalau yang mikir dan ngatur juga banyak, masing-masing mempunyai cara dan cita-cita yang semuanya baik. Karena baik semua menjadi susah yang mana yang dipilih. Kata kuncinya mungkin cuma ‘yang baik untuk kelompok anu belum bisa diterima dengan baik oleh kelompok ini’; dst. Sebuah kesulitan yang lain. Saya serahkan pada ahlinya saja.
Sejak saya pension saya jarang sekali keluar rumah sepagi seperti ketika masih bekerja. Kecuali alasan yang tidak bisa ditunda. Karena saya kangen melihat upacara 17an, Selasa pagi, 17 Agustus 2010 ini saya keluar sebelum jam upacara di mulai. Ketika sampai di ujung jalan Trunojoyo yang menuju aloon-aloon Sidoarjo, di perempatan lampu pengatur lalu lintas pinggir sebelah kiri, duduk seorang perempuan tua. Karena tempat itu panas, ia berpayung. Sudah beberapa hari perempuan tua ini menarik perhatian saya setiap kali saya lewat. Sehingga saya sempatkan berhenti dan turun dari motor. Saya cuma bisa memberinya uang Rp. 1.000,-- Lalu saya Tanya: “Ibu daleme pundi, bu?” (Rumahnya mana bu?) Jawabnya: “Pasuruhan”. (Percakapan selanjutnya saya tulis saja dalam bahasa Indonesia). “Terus kesini naik apa, temannya siapa”. Dia menjelaskan, naik kereta api. Pada kondektur ia mengatakan dengan terus terang kondisinya, sehingga ia di bebaskan dari membeli karcis. Itu dilakukannya setiap hari, kecuali ketika ia merasa benar-benar merasa capek. Dia cerita, kalau suami dan anaknya meninggal akibat tabrakan dengan truck ketika naik becak. Sekarang ia sebatang kara. Nanti pukul 11.00 siang karena panas matahari sudah tidak mampu ditahannya lagi, ia pulang ke Pasuruhan bersama teman-temannya yang juga melakukan hal yang sama: “menanti belas kasihan”, di tempat yang berjauhan. Beberapa saat saya tidak bisa berbicara. Juga tidak menyadari apa yang ada dibenak saya sendiri. Karena saya sudah berhenti disitu hingga saat lampu hijau menyala ketiga kalinya, lalu saya bilang: “Hati-hati, bu”. Ucapan terima kasihnya lemah terdengar ditelan deru mobil yang mengejar lampu kuning.
| Demi Deltras |
| Demi ganti rugi |
Aloon-aloon masih agak sepi. Mungkin orang agak kurang antusias datang ke tempat upacara karena puasa. Di depan gedung DPR Kabupaten, nampak banyak sepeda motor di parkir. Sedang di depan pintu pagar beberapa orang duduk-duduk di tikar dengan latar belakang sebuah spanduk yang tertulis ungkapan yang terkesan ragu-ragu. Proteskah, mengeluhkah, menuntutkah, atau bagaimana. Mereka adalah korban Lumpur Lapindo yang sudah sekitar seminggu unjuk rasa di situ. Sedang tepat di seberangnya berhadap-hadapan, juga banyak orang sambil membaca koran berlindung dari panasnya matahari pagi dibalik bayangan spanduk yang lain. Tapi spanduk yang ini tentang tuntutan pengucuran dana untuk Deltras, group sepak bola kebanggaan Sidoarjo. Saya sebagai orang yang tidak selalu cakap mengatur problem keluarga menyaksikan ini semua cuma bisa: “dhuuuuh susahnya ngatur orang”. Karena tak ada yang bisa saya kerjakan di aloon-aloon itu, dan saya menjadi lupa dengan kekangenan saya ber-‘upacara 17an’, saya pulang.
“Dhuuuuuuh….. susahnya jadi orang merdeka”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar