17/08/10

Tandak Bedhes

in action
Kateni adalah sebuah nama yang diucapkan ketika saya memperkenalkan diri. Ia berasal dari Blitar. Pekerjaannya yang unik membuat saya tertarik untuk dapat berbincang dengannya. Ia adalah seorang pawang monyet yang ia manfaatkan untuk menopang hidup sehari-harinya bersama yang ditinggalkan di kampong halamannya Blitar.
Ia hari demi hari berkeliling untuk membuat tontonan sangat sederhana dengan anak-anak sebagai konsumen utamanya.

Kebanyakan orang menamaknnya tandhak bedhes. Bedhes adalah nama lain dari monyet. Dengan sepeda pancal yang sudah tidak lengkap, asal bisa membawanya berkeliling dari desa ke desa, pada bagasi belakangnya terpasang sebuah sangkar untuk seekor monyet. Beberapa miniature perlengkapan sehari-hari manusia pada umumnya tergantung disisi sangakar tsb. Sebuah tambur berukuran 12 inchi dan panjang 20 Cm terbuat dari pipa pralon diikatkan pada kemudinya. Menurut Kateni, tambur itu dibuatnya sendiri untuk menghemat biaya operasional deri semua perlengkapan tontonannya. Walaupun demikian total modal yang harus disiapkan adalah mendekati dua juta rupiah termasuk harga sepeda dan monyetnya yang waktu dibeli berumur 1,5 tahun yang waktu itu dibelinya dengan harga rp 125.000. “Apakah anda mendidik sendiri monyet anda sehingga bisa menirukan perilaku manusia?” Tanya saya. “Oh, tidak. Untuk itu ada ahlinya dan saya harus menyekolahkan monyet saya selama 6 bulan dengan biaya 1 juta rupiah” ,jawabnya. Kemudian ia bercerita bahwa monyet itu tidak ditangkapnya sendiri langsung dari hutan, tetapi di belinya di sebuah pasar binatang piaraan di Surabaya. Menurutnya, untuk binatang seperti monyetnya itu tidak membutuhkan surat ijin pemeliharaan. Memang ada beberapa jenis monyet yang diharuskan dilengkapi surat ijin dari pemerintah untuk dapat memeliharanya. Katanya lagi, “sebenarnya monyet jenis seperti miliknya mudah didapat di hutan-hutan bakau di pesisir utara p Jawa. Tetapi kenyataannya tidak setiap orang bisa menangkap monyet langsung dari habitatnya. Jadi, untuk itu juga ada ahlinya. Sehingga ia membeli monyetnya itu di pasar tersebut. Apa lagi membeli di pasar bisa memilih yang sesuai dengan kebutuhan”.



Ada yang membuat surprise dari pernyataannya, bahwa ia sebenarnya merasa telah melanggar hak azasi binatang dengan tidak membiarkannya hidup di tempat aslinya. Dalam hatinya yang paling dalam ia merasa kasihan. Karena itu ia berusaha untuk menyayanginya sepenuh hati. Ketika saya tanya, apakah monyetnya sering bertingkah selama di pekerjakannya sebagai pemeraga perilaku manusia? Ia menjawab: “Monyet itu seperti manusia. Ia punya rasa capek, lapar dan memiliki emosi tidak jauh berbeda dengan manusia. Orang-orang seperti saya, menyadari hal itu. Kami para penjaja tari bedes selalu berusaha memahami kemauan monyet-monyet dan suasana hatinya. Ia bisa marah bila diganggu penonton atau menunjukkan kemalasannya ketika merasa lapar. Bahkan ia bisa mengerti kalau kami tidak punya uang untuk memberinya makan walau sekedar sebuah pisang. Mereka mengerti pembicaraan kami. Tapi kami tidak bisa mengerti dengan mudah kemauannya. Sehingga kami perlu mempelajari sifat-sifatnya. Pelatih monyet biasanya memberi tahu secara umum watak monyet milik kita masing2. Karena lain monyet lain juga karakternya.
“Dari keliling yang anda lakukan bersama monyet anda, penghasilan anda memuaskan?”
“Tentu sangat relative. Tapi kami harus selalu menganggap ‘itu semua rejeki pemberian Tuhan’. Kami harus pandai mengelolanya. Kenyataannya saya sudah menjalani hidup seperti ini hampir 10 tahun”.
Kateni sedikit menceritakan keluarganya yang di Blitar. Mungkin ia mulai merindukan mereka.
“Saya disini sudah lima hari. Biasanya saya pulang ke Blitar 7 – 10 hari sekali. Anak saya yang nomer tiga sudah di taman kanak2. Sebetulnya saya ada rencana ke Bali setelah dari Surabaya. Disana orang sangat menyukai pertunjukan kami ini. Sayangnya monyet saya tidak tahan bau asap sesajian kalau orang kampong meminta saya untuk mempertontonkan keahlian dan kelucuan monyet saya. Jadi saya memilih kesini lagi saja”.
Kemudaan ia berpamitan untuk memulai perjuangan hidup hari ini bersama monyet kesayangannya. OK lah. Semoga monyet itu membawa rejeki buat keluarga Kateni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar