16/08/10

Money Changer Musiman

Menunggu rejeki
Dulu, sekitar 30 tahun yang lalu, saya juga tidak berpikir fenomena apa yang terjadi saat itu. Sebuah era yang menghalalkan judi lewat undian nomor berhadiah bernama NALO. KOnon singkatan daro Nasional Lotre. Kalau tidak salah waktu itu sebuah cara untuk menggalang dana demi kemajuan dunia olah raga kita. Nalo ini dijual kepada semua orang tanpa pandang suku, agama, umur dan jenis kelamin. Bahkan stan NALO ini mengalahkan semua bentuk stand pasar malam yang tempatnya ditata dengan aturan tertentu.
NALO dijual di semua sudut dan sepanjang jalan. Di pasar, di komplek perumahan, dekat sekolahan, dekat rumah ibadah. Kenampakannya seperti bazaar pada masa kini. Meja berderet deret menyediakan daftar nomor bagus dengan berbagai ramalan dari gunung ini gua itu pertapa anu. Hadiahpun mulai dari sejumlah uang yang besarnya disepakati secara konvensional dalam dunia perbuntutan juga berbagai macam barang mulai dari seperda on the sampai sepeda motor.

Kalau tidak salah nomor NALO terdiri dari 9 digit. Tetapi orang bisa mendapatkan hadiah walaupun hanya cocok dua digit dari belakang. Yang paling dikenal adalah apa yang dinamakan ekor atau buntut kalau dalam Bahasa Jawa. Dampaknya adalah muncul bandar ‘buntut NALO’. Inilah yang menghancurkan ekonomi keluarga. Tetapi juga memunculkan banyak peramal buntut. Anehnya tidak ada tercatat dalam sejarah dunia perbuntutan adanya peramal yang kaya. Logikanya kalau bisa menebak nomor buntut yang akan keluar kan mestinya dibeli sendiri dan akan membuat dirinya sendiri kaya. Waljinah terinspirasi fenomena ini dengan diungkapkan dalam lagu langgam Jawa-nya yagng berjudul ‘Enthit’ dan lirik yang paling lucu: ‘dhuwit entek, tuku’. Maksudnya kalau uangnya habis ya beli uang.

Lain dulu lain sekarang. Ini marak terjadi pada saat menjelang bulan Puasa hingga mendekati hari Raya Fitri. Orang jual uang pecahan di pinggir-pinggir jalan. “Semakin mendekati Lebaran semakin ramai orang menukarkan uangnya dengan uang pecahan kecil”, kata Bambang yang mengaku perolehannya sekedar untuk beli jajan dan rokok. Orang Indonesia memang dermawan kalau tidak bermental pamer yang tidak disadari. (Suwer bukan karena saya iri). Setiap Lebaran, terjadilah lonjakan mobilisasi tradisional yang merepotkan pemerintah terutama Departemen Perhubungan. Semua mudik ke kampung asal. Entah sadar atau tidak, mereka berlomba membawa pulang harta apa saja sebagai simbol kesuseksannya di rantau. Salah satu diantaranya membagikan uang pecahan lembaran baru dari seribu rupiah (yang konon akan dinamakan se-rupiah saja), dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh, lima puluh hingga seratus ribu rupiah.

Bisa juga terjadi tawar menawar
‘Money changer’ musiman ini berjajar di pinggir jalan atau tempat keramaian sambil mengacungkan bergebok uang rupiah lembaran baru, ditawarkan kepada yang membutuhkan untuk dibagi-bagikan kepada kerabat sanak famili di kampong. Mereka umumnya bekerja pada seorang pemodal/investor dengan mendapat imbalan 30% dari 10% fee yang diperoleh dari penukaran itu. Misalnya untuk memperoleh uang ‘receh’ dengan lembaran baru sejumlah seratus ribu rupiah, seseorang harus menggantinya dengan nilai seratus sepuluh ribu rupiah. Dari sepuluh ribu rupiah inilah para ‘money changer’ ini memperoleh tiga ribu rupiah sebagai ganti lelah. Berapa pendapatan mereka, tinggal hitung saja berapa mereka dapat ‘menjual’ uangnya. Ketika saya tanyakan kepada Bambang lagi, mengapa tidak datangi saja dari pintu ke pintu? Jawabnya :”Itu berarti saya harus butuh modal, bensin misalnya. Sedang dengan cara demikian belum tentu ada yang mau menukar uangnya”. Betul juga kamu mas!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar