![]() |
| Rejeki tak kan kemana, mBok! |
kendaraan pribadi roda empat, bahkan sepeda pancal.
Saya salah satu pejalan kaki yang pagi itu menikmati udara segar karena semalam hujan deras. Di depan Malioboro Mall, saya lihat seorang ibu lagi duduk dipinggiran pemisah jalan sebelah timur. Di depannya ada sebuah ‘tenggok’ (keranjang bambu yang anyamannya dibuat rapat), sedang diatasnya sebuah ‘tambir‘ (sejenis tempat saji juga terbuat dari bambu) diameter setengah meteran, berisi makanan jajanan tradisional tinggal separoh. Gatot, cenil, gendar dan lopis. Sulit untuk mendiskripsi makanan ini dengan kata-kata kecuali pembaca menyempatkan mencicipi sendiri. Saya berhenti persis di depannya. Lalu jongkok, merapat ke tenggoknya. “Dahar mas (makan mas)”, katanya langsung menyiapkan sesobek daun pisang. Saya ragu. “Mulai jam pinten bu? (Mulai jam berapa berjualan bu)”, Tanya saya. Ibu itu, bernama bu Sukirah dan yang ngakunya70 tahun, menjawab, tentu saja dengan bahasa Jawa. “Jam enam”. “Masaknya?”, tanya saya lagi. “Jam dua belas malam”, ia memandangi saya. “Yang Bantu?”. “Sendiri”, jawabnya singkat, setelah berdiam sebentar, tetapi tertawa ngekeh sambil memamerkan gusinya yang sudah tak bergigi. Saya nggak bertanya lagi, menghormati privasinya, walaupun ingin tanya lebih banyak.
“Foto bu nggih?”. Sambil tertawa lagi ia menjawab, “Ah, biasa. Sudah banyak yang motret. Pokoke . . . . ”. Bu Sukirah tertawa ngekeh lagi sambil ibu jari dan telunjuknya diketemukan. Dan …. Memukul pundakku. Aku mengerti maksudnya. Orang Jogya sudah maju. Nggak pakai basa basi, nggak seperti waktu saya kecil dulu.Dan jadilah foto seperti yang anda lihat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar